NARASI SENI TARI BARONG DAN CALONARANG

Latar Belakang

Tari Barong & Keris Batubulan memang bermula dari pertunjukan tari Barong yang ada di Pagutan, namun saat itu masih menggunakan lakon Balian Batur. Tari Barong ini sempat didokumentasikan oleh Wallter Spice sekitar tahun 1937. Juga sudah ditulis dalam bukunya yang berjudul Dance And Drama In Bali. Berdasarkan informasi dari para penglingsir kami di Pagutan, tari Barong inilah merupakan cikal bakal tarian Barong yang dipentaskan untuk touris saat ini yang memakai lakon Kunti Seraya.


 

Menurut Prof. DR I Wayan Dibia, MA dari desa Singapadu dapat meluruskan sedikit tentang kesejarahan Tari Barong Kunti Sraya. Beliu menyatakan bahwa seni pertunjukan tari barong yang menjadi tontonan para touris di era tahun 1936 hingga 1947 mempunyai karakteristik berbeda-beda pada awalnya. Saat itu pementasan tari barong mengambil lakon berbeda-beda ada yang mengambil lakon Calon arang, ada lakon Kolekek, ada lakon Balian Batur, sampai terdekumentasikan di Pagutan dan Pura Dalem Tahak Batubulan. Walaupun sebenarnya pemetasan tari barong saat itu juga ada di Pura Dalem Sekar Mukti Singapadu, Puri Tegal Tamu dan Br. Pagutan.

Tentang lakon kunti sraya, menurut beliau tercipta di era 1942 yang pertama kali dipentaskan di Pura Desa Singapadu. Kurun waktu 1942 hingga 1961 rutin dipentaskan tarian barong kunti sraya di Pura Desa Singapadu yang akhirnya terjadi gejolak atas pemakaian area pura sebagai tempat pementasan tari barong tourist yang akhirnya harus membuat tempat pementasan baru di banjar Sengguan Singapadu.Saat pembangunan pura di Sengguan pertengahan tahun 1961-1962 akhirnya seniman Singapadu yaitu Bapak Kredek mengajarkan tari barong kunti sraya ke Br. Denjalan Batubulan.

Di Batubulan seni pertunjukan tari barong kunti sraya berkembang awalnya dipentaskan di pura Puseh Batubulan dan akhirnya kembali ke banjar Denjalan dengan personil Pemaksan Barong banjar Denjalan dan banjar Batur. Berkembang juga si Banjar Tegaltamu dan satu lagi di puri Batubulan yang disokong oleh  Travel Bali Tour saat itu dengan personil Pemaksan Barong Pagutan. ( Br, Pagutan Kaja & Pagutan Kelod). Karena tuntutan managemen dan partnership yang berubah pemaksan barong Pagutan melebur menjadi yayasan Sahadewa yang sekarang Stagenya representatif di Jalan Kampus Seni Batubulan.  Tahun 1990an lahir juga Barong& Kris Sila Budaya  di Br Tegehe dan Tahun 2010 Lahir barong Jambe Budaya.

Kembali ke Barong Calonarang Balian Batur. Karena yang  ditonjolkan adalah tari Barong Dan tari Keris, maka jalan cerita Balian Batur tidak menjadi fokus perhatian saat itu. Sehingga pementasan ini terkenal dengan tari Barong Pagutan. Tari Barong ini memang unik. Disamping akan terjadinya trance atau kerawuhan karena mementaskan Ida Panembahan (Barong sakral), tari kerisnya ditata memakai penari pria dan wanita. Mungkin tari keris oleh penari wanita ini yang sulit kami lestarikan pada saat sekarang. Karena beberapa keunikan itu sulit kami teruskan,maka pada kesempatan upacara ngodakan Panembahan Ratu Anom 7 April 2009  kami  menggarap cerita Balian Batur ini dalam bentuk seni pertunjukan Drama Tari Calonarang.

 

Drama tari Calonarang memang sangat terkenal sebagai salah satu seni pertunjukan di Bali. Namun orientasi orang akan selalu mengarah pada cerita Walu Nateng Dirah kontra Empu Peradah. Akan tetapi lain halnya dengan Calonarang yang ada di Pagutan.

Kalau kita menoleh ke belakang, dari dokumentasi yang terdapat di beberapa museum di luar negeri khususnya Amerika dan Eropa, ternyata terdapat dokomentasi dari pementasan tari Barong Pagutan yang mengambil lakon “Balian Batur”. Menurut data yang ada di filmnya maupun dalam buku Dance And Drama In Bali, itu didokumentasikan pada tahun 1937 oleh Wallter Spice. Nah, bertitik tolak dari hal itu, kami para pelaku seni pertunjukan di Pagutan dan juga atas dorongan masyarakat Banjar Pagutan Kaja dan Kelod, kami mencoba membangkitkan kembali apa yang telah dilakukan oleh para pelaku seni di Pagutan jaman dulu. Karena dokumen yang kami temukan tidak komplit atau berupa cuplikan-cuplikannya saja dan tanpa suara yang asli, mendorong kami untuk menata kembali sesuai dengan informasi yang kami dapatkan baik dari para penglingsir kami di Pagutan dan juga dari para seniaman akademis. Berdasarkan informasi yang kami peroleh, cerita ini kami kemas dalam bentuk seni pertunjukan Drama Tari Calonarang.

 

 Ringkasan cerita dari Balian Batur

Pada masa pemerintahan Ida Dalem Dimadé di Gélgél, di Bali terjadilah perpecahan yang menimbulkan dua kekuasaan yaitu kerjaan Gélgél yang dipegang oleh Ida Dalem Dimadé dan kerajaan Mengwi yang dipegang oleh I Gusti Agung Bima Sakti yang juga dikenal dengan Cokorda Blambangan. I Bintang Danu tidak mau tunduk pada Raja Mengwi dan selalu setia mengabdikan dirinya kepada Raja Klungkung (Gélgél).  Karena wilayah Bintang Danu ini dikuasai oleh kerajaan Mengwi, beliau mengungsi ke Teledu Nginyah dan melakukan semadi disekitar Danau Batur. Dari semadi beliau ini, beliau dianugrahi kawisésan (kesaktian) yang bernama Pangerep Andakasa. Dari wahyu yang beliau terima, Pangerep Andakasa inilah nantinya akan mampu mengembalikan Bali ke dalam satu kekuasaan. Setelah bersemadi, Bintang Danu sering menolong orang yang sedang sakit dengan memberikan obat-obatan dan juga memijat. Karena semakin terkenal bisa menyembuhkan orang sakit, Bintang Danu dijuluki Ki Balian Batur. Ki Balian Batur tinggal bersama istrinya yang bernama Ni Kebér dan empat orang anaknya Ni Wayan Sengkrog, Ni Madé Wati, Ni Nyoman Lengkér dan I Ketut Lengka. Mereka hidup dengan berkebun dan berternak, dan Ni Madé Wati berdagang menjual nasi di Rangkan (Klungkung). Singkat cerita di Rangkan terjadilah wabah (grubug). Ni Madé Wati diduga menyebarkan wabah ini dengan kekuatan destinya. Karena Rangkan adalah kekuasaan Mengwi, diutuslah I Bendesa Tangi (Patih Cawu) untuk memastikan keadaannya di Rangkan. Setelah Patih Cawu mengetahui semuanya, kembali hal ini dilaporkan kepada sang Raja. Diutuslah I Bendesa Gumiar (Sukra) yang tinggal di Jimbaran untuk memerangi Ki Balian Batur sekeluarga ke Teledu Nginyah. Dengan semua prajuritnya Bendesa Gumiar berangkat ke Teledu Nginyah. Sampai di Teledu Nginyah ternyata Ki Balian Batur sudah tahu semuanya apa yang akan terjadi. Sampai kesaktian Bendesa Gumiar yang di berikan oleh Ida Pedanda Sakti Bawu Rauh yang bernama Selambang Geni dan Geni Wiracana juga sudah diketahui. Ki Balian Batur sudah sangat yakin bahwa tak seorangpun mampu mengalahkannya. Terlebih kalau matahari sudah terbenam adalah sepenuhnya akan dikuasai oleh Balian Batur. Akan tetapi karena Ki Balian Batur sudah menyadari bahwa tujuan hidup ini adalah untuk mencapai moksa, beliau membeberkan semua kekuatan dan kelemahannya. Yang mampu mencabut nyawa beliau hanya satu, yaitu Pusaka Wirãntaka. Pusaka ini hanya ada di Gélgél, Klungkung. Hal ini dilaporkan oleh Bendesa Gumiar kepada I Gusti Agung Bima Sakti. Disinilah terdapat pilihan yang sulit bagi Raja Mengwi I Gusti Agung Bima Sakti. Kalau tetap ingin mempertahankan kekuasaannya, tidak akan bisa lepas dari wabah (Grubug). Rakyat akan terus menderita. Kalau ingin wilayah dan rakyatnya tetap tentram dan sehat harus tunduk pada Raja Klungkung agar bisa mengalahkan Ki Balian Batur. Suatu keputusan yang bijak, IGusti Agung Bima Sakti memilih tetap agar rakyat menjadi lebih tentram dan sehat. Beliau rela tunduk kembali terhadap kekuasaan kerajaan Klugkung agar bisa mengalahkan Balian Batur. Atas sasupatan dari Pusaka Wirãntaka, Balian Batur pun bisa mencapai moksa tan patinggal sawa, tan patinggal awu. Akhirnya Bali kembali kepada satu kekuasaan yaitu kerajaan Klungkung.

 

Skenario atau pembabakan dari pementasannya

 

  1. Condong menceritakan keberadaanya di padukuhan bersama Balian Batur sekeluarga, Ni Made Wati (anak ke dua Balian Batur) sebagai galuhnya. Dan  Balian Batur.

 

  1. Kerajaan Mengwi. Diawali dengan penasar dan Patih Cawu untuk menghadap sang Raja. Bertemu Raja Mengwi membicarakan keadaan yang terjadi di desa Rangkan,  Klungkung. Patih Cawu diutus untuk datang ke Klungkung agar tahu apa sebenarnya yang terjadi.

 

  1.  Pertemuan antara Patih Cawu dengan Ni Made Wati, terjadi roman yang berakhir dengan ketegangan karena ketidaksepahaman antara Raja Mengwi dengan Balian Batur. Patih Cawu melapor ke Raja Mengwi dan Ni Made Wati melapor ke Balian   Batur. Balian batur murka dan segera mengerahkan para sisyanya.

 

  1.  Sisya Ngeréh untuk menghancurkan keadaan di Rangkan, Klungkung. Dilanjutkan dengan Bondres yang mengisahkan kehancuran di Rangkan hingga bertanya ke  Balian Sonteng untuk mengetahui penyebab dari kehancuran ini. Balian Sonteng memastikan bahwa yang menyebarkan penyakit adalah Ki Balian Batur. Bondres melapor ke Raja Mengwi yang isinya sama dengan laporan Patih Cawu yaitu yang menyebabkan hancur keadaannya di Rangkan adalah Ki Balian Batur. Diutuslah I Bendasa Gumiar untuk memerangi Ki Balian Batur.

 

  1. Bendesa Gumiar yang tinggal di Jimabaran menerima utusan dari Raja Mengwi agar memerangi Ki Balian Batur. Bendesa Gumiar dengan prajuritnya datang ke Balian Batur untuk berperang dengan Balian Batur.

 

  1. Perang antara Bendesa Gumiar dengan Balian Batur. Bendesa Gumiar dengan kesaktianya yang dapat dari Pedanda Sakti Bawu Rauh dan Balian Batur engan kekuatan yang diterima dari Ida Betara di Pura Batur. Balian Batur dan ke empat anaknya menjelma menjadi Rangda. Bendasa Gumiar dan pasukannya lari ke  Mengwi.

 

Skenarionya kami akhiri sampai babak VI saja. Kalau cerita lengkapnya, Ki Balian Batur hanya bisa dikalahkan dengan Pusaka Wrãntaka yang terdapat di Puri Klungkung. Ini pun disampaikan oleh Balian batur kepada Bendesa Gumiar. Tujuan dari pada kesaktian Balian Batur yang diberikan oleh Ida Betara di Pura Batur, agar antara Kerajaan Klungkung dan Kerajaan Mengwi bisa bersatu kembali. Sehingga tidak terjadi dualisme kekuasaan di Bali .( Sila)